Senin, 26 Maret 2018

Paus Balin Tak Ada Angka Kelahiran Jadi Terancam Punah

Paus Balin Tak Ada Angka Kelahiran Jadi Terancam Punah

Beberapa hari terakhir kita mendapat kabar duka dengan meninggalnya Sudan, badak putih jantan terakhir di dunia. Hal ini berarti, hewan tersebut mengalami ancaman kepunahan yang nyata.

Namun, siapa sangka berita ancaman kepunahan tak berhenti sampai disitu saja. Kini, paus sikat Atlantik utara atau yang kerap disebut paus balin juga mengalaminya.

Hal ini ditegaskan setelah tahun ini tak ada kelahiran dari mamalia laut itu. Para peneliti menyebut bahwa mereka belum melihat bayi paus balin yang lahir di daerah calving di lepas pantai Florida dan Georgia.

Padahal, empat bulan musim dingin hewan ini (yang juga merupakan musim melahirkan), berakhir pada bulan Maret.

Menurut Barb Zoodman, petugas program pemulihan paus di Badan Taman Laut dan Perikanan Nasional, mengatakan bahwa pada umumnya, induk dan anak hewan laut besar itu akan tinggal di wilayah tersebut hingga pertengah April.

"Saya berharap ini hanya tren sementara," kata Zoodman dikutip dari CNN, Selasa (27/03/2018).

"Tapi, saya pernah melihat tren sementara sebelumnya. Apa yang aku lihat dan dengar berbeda dengan sekarang, ini membuatku khawatir," imbuhnya.

Tak ada anak paus balin yang lahir dari jenis ini merupakan kabar buruk. Pasalnya, menurut badan perikanan tersebut, hanya tersisa 450 ekor paus jenis ini yang tersisa di dunia.

Apalagi, tahun lalu, jumlah paus balin yang mati melonjak hingga 17 ekor. Hal ini dilaporkan oleh Clay George, ahli biologi margasatwa senior di Departemen Sumber Daya Alam Georgia dalam buletin bulanan departemen tersebut.

Dengan kata lain, kurangnya kelahiran paus sikat Atlantik Utara dan meningkatnya jumlah kematian itu merupakan kombinasi yang buruk.

Paus balin memang diketahui telah lama mengalami tahun-tahun buruk tentang kelahiran. Dalam laporan George pada 2000, hanya ada satu ekor anak paus yang terlihat.

Meski pada tahun berikutnya, peneliti melihat 31 anak paus balin di wilayah tersebut.

"Aku terus berpikir, kapan kita melihat kelahiran (paus balin) yang luar biasa?," ujar George dalam laporannya.

Penyebabnya...

Zoodman dan George sepakat bahwa jumlah kelahiran paus balin dalam lima tahun terakhir memang di bawah rata-rata. Banyak alasan yang menyebabkan sedikitnya kelahiran paus balin ini.

Para peneliti memperkirakan bahwa salah satunya jumlah betina yang kurang dari 100 ekor di Atlantik Utara. Selain itu, lebih sedikit paus yang terlihat di tempat makan tradisioanlnya, lepas pantai New England dan Kanada.

Jumlah yang seikit ini mungkin dipengaruhi oleh pemanasan laut. Pemanasan suhu laut mempengaruhi jumlah mangsa dari paus balin tersebut.

Zoodman juga menyebut, paus betina juga banyak yang mati terlalu muda.

"Paus kepala busur (kerabat dekat paus balin) mampu hidup
hingga usia 200 tahun," kata Zoodman.

"(Tapi) kebanyakan paus sikat Atlantik Utara betina mati pada usia 30-1n," tambahnya.

Sebenarnya, paus sikat Atlantik Utara telah masuk dalam daftar terancam punah sejak tahun 1970. Alasan paling kuat adalah perburuan hewan ini.

Paus balin diburu hingga hampir punah pada akhir abad ke-19 oleh para pemburu komersial.

Meski perburuan tersebut saat ini bukan lagi ancaman, tapi jumlah paus balin terus menurun. Kebanyakan mereka mati akibat terjerat jaring nelayan secara tak sengaja hingga ditabrak kapal.

Senin, 12 Maret 2018

Temuan Baru Makam Kuno Milik Jenderal Dinasti Han

Temuan Baru Makam Kuno Milik Jenderal Dinasti Han

Menemukan makam kuno menjadi sebuah keberuntungan untuk para arkeolog. Seperti yang dialami oleh para arkeolog di China baru-baru ini.

Mereka menemukan sisa-sisa makam kuno dari tiga orang. Bukan sekedar makam biasa, melainkan salah satu jenderal perang paling terkenal di China.

Menurut laporan Taiwan News, Senin (26/03/2018), makam kuno tersebut berada di kota Anyang, provinsi Henan, China. Makam tersebut merupakan salah satu makam bawah tanah besar yang berasal dari tahun 220.

Setelah melakukan serangkaian identifikasi, salah satu makam tersebut diyakini milik Cao Cao, seorang panglima perang China yang naik ke tampuk kekuasan di akhir Dinasti Han Timur.

Cao Cao sangat dihormati pada zamannya, sekitar 1.800 tahun lalu. Sayangnya, makam tersebut tidak banyak memasukkn informasi yang membuat pengidentifikasian lebih mudah.

Ada bukti bahwa kuburan tersebut cukup rumit. Para sejarawan percaya hal itu dilakukan oleh putra Cao Cao yang sengaja menghancurkan makam itu dan membersihkan puingnya untuk menyembunyikan jenazah sang ayah.

Hal tersebut mencegah para penjarah kuburan atau musuh menemukan dan menodai makam itu. Para arkeolog percaya bahwa itu merupakan wasiat sang jenderal.

Meski sulit diidentifikasi, masih tertinggal beberapa bukti bahwa makam tersebut milik Cao Cao. Salah satunya sebuah batu tablet yang disebut berasal dari situs tersebut.

Tablet itu ditemukan pada 2009. Di sana tertulis "Raja Wu dari Wei", salah satu gelar Cao Cao.

Terlebih lagi, makam tersebut sangat besar dan cocok untuk seorang kaisar. Ini juga menunjukkan kisah menarik dari praktek pemakaman kuno di China.

Selain Cao Cao, masih ada dua makam lagi di situs tersebut. Keduanya adalah milik dua wanita berusia sekitar 20 dan 50 tahun.

Kedua wanita tersebut belum teridentifikasi. Tapi, keduanya tidak mungkin istri Cao Cao.

Itu karena istri sang jenderal meninggal di usia 70-an.

Dilansir dari Newsweek, Selasa (27/03/2018), para arkeolog sebenarnya menemukan dan menggali situs ini pada 2006 hingga 2017. Tapi, mereka baru mengumumkannya baru-baru ini kepada publik.